Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

21 Adab untuk Abad ke-21: Krisis Periodik Kisah Liberal

Pada paruh kedua abad ke-19, era globalisasi dan liberalisasi pertama berakhir dalam pertumpahan darah Perang Dunia Pertama. Kekuasaan imperialisme jauh lebih kuat daripada liberalisme. Yang mana alih-alih menyatukan dunia dengan perdagangan benas justru berfokus pada ekspansi wilayah.  Lalu fasisme Hitler (1930-1940an) berkuasa tapi tidak berlangsung lama. Kemudian komunisme oleh Che Guevara (1950-1970an) semakin membuat posisi liberalisme terancam tapi kemudian komunisme itu sendiri yang runtuh.  Terbuktilah ternyata kisah liberalisme justru lebih fleksibel ketimbang cerita fasisme, komunisme, imperialisme. Liberalisme malahan mengadopsi ide dan praktik terbaik dari mereka.  Paradoksal Kisah Liberalisme:  Pada tahun 1918, Britania dan Perancis sangat menggaungkan tentang semangat kebebasan tapi mereka tidak memikirkan subjek-subjek masyarakat dunia.  Tentara Inggris justru melakukan pembunuhan terhadap ratusan demonstran India yang tidak bersenjata (Amritsar t...

Resensi Buku Bumi Manusia

Gambar
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer Penerbit : Lentera Dipantara Tahun Terbit : Cetakan 33, Agustus 2019 Tebal Buku : 551 halaman Harga Buku : 132,000 (Togamas) ISBN 13 : 978–979–97312–3–4 “Berbahagialah dia yang makan dari keringanya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan” “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya” “Dengan melawan kita takkan sepenuhnya kalah” Bumi Manusia merupakan karya sastra legendaris Indonesia. Taksiran saya buku tersebut tidak akan termakan oleh waktu, buktinya buku Bumi Manusia yang terbit pertama kali pada tahun 1980 hingga sampai sekarang masih sangat layak untuk dibaca. Tak heran mengapa buku tersebut masih sangat populer, karena buku tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang merupakan salah satu ...

Menormalisasi Kekerasan

Gambar
https://www.kincir.com/movie/cinema/adegan-berantem-di-penjara-film Menurut saya, tindakan kekerasan tidak harus selamanya dinilai buruk. Pasti akan ada kalanya dan mau tidak mau kita harus mengandalkan tindak kekerasan sebagai alat untuk bertahan hidup. Terkadang kekerasan dapat digunakan sebagai untuk alat beradaptasi sehingga dapat menyatu dan diterima ke dalam sebuah sistem. Pada zaman berburu, manusia tidak akan bisa hidup jika tidak mengandalkan kekerasan. Satu-satunya sumber energi adalah berasal dari binatang. Ya, mereka hanya bisa melakukan itu untuk bertahan hidup. Hingga sampai saat ini manusia pun senang untuk mengosumsi bintang. Namun jika dilihat dari sisi yang bertentangan, para vegan tentunya mengutuk perilaku tersebut. Vegan merupakan gaya hidup yang tidak mengosumsi makanan daging dan semua produk turunannya. Hal tersebut menunjukan bahwa kita sama sekali tidak bisa memaksakan norma atau nilai-nilai yang kita anut untuk dilaksanakan oleh orang lain. ...